Fashion Rhapsody tahun ini bertema “Harmoni Bumi reseller baju anak branded” mengangkat limbah industri yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Empat desainer muda telah mengumpulkan lebih dari seribu artikel pakaian dari merek dan desainer lokal yang memiliki misi yang sama dengan mereka, bersama-sama untuk meningkatkan kesadaran terhadap keberlanjutan, mengajak pelaku industri untuk mengurangi produksi limbah.

Secara kolektif, keempat desainer tersebut mengambil posisi reseller baju anak branded dan karakteristik yang berbeda dalam hal desain, namun mengusung semangat yang sama, yang ditunjukkan melalui inspirasi dari kearifan lokal, kesopanan, kesederhanaan, dan keanggunan pada setiap penyajian busananya.

Reseller Baju Anak Branded Muslimah Murah Sekali

Setiap desainer berkontribusi pada gerakan berkelanjutan dengan cara yang berbeda, diimplementasikan pada bahan organik dan produksi limbah yang lebih sedikit, inisiatif daur ulang dan kolaborasi dengan WWF untuk mendukung pelestarian.Di Indonesia, tie dye disebut juga dengan jumputan. Bahkan ada yang memadukan teknik jumputan dengan batik.

reseller baju anak branded

Popularitas tie-dye kemudian melonjak di AS seiring dengan munculnya subkultur grosir gamis murah berkualitas hippie, sebuah gerakan yang cukup berpengaruh di tahun 1960-an atau biasa disebut dengan generasi ‘flower power’.Tie-dye menjadi simbol dan pernyataan kontra budaya di era itu. Sejak itu, tie-dye terus tumbuh di dunia mode. Tren tie dye sendiri tidak hanya berhenti pada pakaian saja, tetapi juga fashion item lainnya seperti topi, sepatu, tas, dan aksesoris.

Kehadiran tren fast fashion membawa dampak buruk bagi lingkungan. Menurut unenvironment.org pada tahun 2018 perkembangan industri fashion menghasilkan 20 persen air limbah dan 10 persen emisi karbon di dunia. Selain itu, dampak paling nyata yang terjadi di sekitar kita adalah meningkatnya budaya konsumerisme di masyarakat.

Tren busana muslim yang ada tersebut membuat masyarakat hanya mengenakan pakaian satu sampai dua kali, meninggalkan tumpukan pakaian di rumah atau membuangnya begitu saja ke tempat sampah. Rata-rata rumah tangga perkotaan membuang 30 kilogram pakaian setiap tahun dan menghasilkan berton-ton limbah tekstil secara teratur.

Penyanyi jazz ternama Indonesia, Andien Aisyah, mengalami kewalahan menangani tumpukan pakaian. Tiga tahun lalu, dia membangun sebuah yayasan bernama Sumbang.in yang menerima barang-barang sumbangan dan menyalurkannya ke berbagai badan amal. Seiring berjalannya waktu, barang-barang donasi yang diterima ternyata banyak berupa pakaian dalam kondisi rusak.

Di satu sisi, ia menangkap gelombang baru dalam keberlanjutan mode, yaitu decluttering. Dia mengubah nama yayasan menjadi Salur dan mengundang rekan-rekan seniman dengan pakaian yang cukup dari endorsement dan sponsor yang tidak mereka pakai lagi untuk dipilah dan diberikan kepada yang membutuhkan melalui yayasannya. Tapi, itu tidak mengurangi pakaian yang terbuang.

“Energi sebuah nama bukanlah kebohongan reseller baju anak branded. Baik Sumbang.in maupun Salur membuat orang berpikir satu arah dan tidak melingkar, lalu kami ubah lagi menjadi Setali Indonesia. Jika kita hanya memberikan barang kepada orang-orang, itu tidak akan berkelanjutan karena orang-orang belum tentu menyukainya. Lain halnya jika kita mengelola pakaian dan orang akan melihat dan memilih sendiri, itu akan memiliki nilai lebih.

Pada akhirnya, kita belajar konsep ini, yang berarti reseller baju anak branded keberlanjutan dalam memperpanjang umur barang. Dari sini, kami dapat memastikan bahwa kami memang mendistribusikan barang untuk orang yang benar-benar menginginkannya dengan mengedarkan barang dan menjualnya melalui garage sale,” kata Intan Anggita, Co-Founder and Business Development Setali Indonesia.